RSS

Teori-Teori Belajar

15 Apr

Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku. Setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia menurut John Locke dan Leibnitz.

John Locke menganggap manusia merupakan organisme yang pasif dengan teori tabularasa. Sedangkan Leibnitz menganggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif, manusia merupakan sumber kegiatan.

Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya perilaku, kedua aliran teori belajar memiliki perbedaan pula.

Tabel perbedaan Aliran Behavioristik dan Kognitif

Teori Belajar Behavioristik

Teori Belajar Kognitif

Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan apa yang ada dalam diri
Mementingkan bagian-bagian Mementingkan keseluruhan
Mengutamakan peranan reaksi Mengutamakan fungsi kognitif
Hasil belajar terbentuk secara mekanis Terjadi keseimbangan dalam diri
Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu Tergantung pada kondisi saat ini
Mementingkan pembentukan kebiasaan Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
Memecahkan masalah dilakukan dengan trial and error Memecahkan masalah didasarkan pada insight

 Beberapa Teori Belajar Behavioristik

 

  1. Teori Belajar Koneksionisme, Tokohnya : Thorndike.

Menurut teori ini : Dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi yang ditangkap oleh pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respon (S-R). Dalam teori koneksionisme, Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar :

  1. Hukum kesiapan (law of readliness), hubungan antara stimulus dan respon akan terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu.

  2. Hukum Latihan (law of exercise), hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respon.

  3. Hukum akibat (law of effect), hukum ini menunjuk pada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respon tergantung pada akibat yang ditimbulkannya.

Di samping hukum-hukum belajar, konsep penting dari teori koneksionisme adalah transfer of training yang menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa mendatang.

  1. Teori Belajar Classical Conditioning Tokohnya : Pavlov

Pavlov melakukan percobaan terhadap anjing. Dari eksperimen yang dilakukan ditarik kesimpulan, bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan pengkondisian tertentu.

  1. Operant Conditioning, Tokohnya : Skinner

Skinner berpendapat bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah menjadi komponen yang spesifik. Selanjutnya pada setiap tingkah laku spesifik yang telah direspon diberikan hadiah (reinforcer) agar tingkah laku itu terus diulang, serta memotivasi agar berlanjut pada komponen tingkah laku selanjutnya sampai akhirnya membentuk tingkah laku yang diharapkan.

  1. Teori-teori Belajar Kognitif

  1. Teori Gestalt, Tokohnya : Kofka, Kohler, dan Wertheimer

Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu permasalahan. Insight memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Kemampuan insight seseorang tergantung pada kemampuan dasar orang tersebut, kemampuan dasar tergantung pada usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompoknya.

  2. Insight tergantung pada pengalaman masa lalunya yang relevan.

  3. Insight tergantung pada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.

  4. Pengertian merupakan inti dari insight.

  5. Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain.

Untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang teori ini, berikut beberapa prinsip penerapannya (Nasution, 1982)

  1. Belajar itu berdasarkan keseluruhan, belajar berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah ini siswa dapat mempelajari fakta.

  2. Anak yang belajar merupakan keseluruhan, membelajarkan anak adalah mengembangkan pribadi anak seutuhnya.

  3. Belajar berkat insight, belajar akan terjadi manakala dihadapkan pada suatu persoalan yang harus dipecahkan.

  4. Belajar berdasarkan pengalaman, proses membelajarkan adalah proses memberikan pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak.

  1. Teori Medan (Field Theory), tokohnya : Lewin

Teori medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan pemecahan masalah dalam belajar menurut Lewin adalah :

  1. Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat memecahkan masalah jika bisa merubah struktur kognitifnya.

  2. Pentingnya motivasi. Motivasi adalah daya tarik tertentu yang mendorong setiap individu berperilaku.

  1. Teori Konstruktivistik, tokohnya : Jean Piaget

Piaget berpendapat bahwa setiap individu sejak kecil sudak memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Mengkonstruksi pengetahuan dilakukan dengan proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Preanada Media Group.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2012 in Pendidikan

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: